Rabu, 02 Oktober 2013

Cerita Rakyat Palembang: Ratu Bagus Kuning dan Siluman Kera

Pada masa Kesultanan Palembang, sekitar abad ke-16, di wilayah Batanghari Sembilan mulai masuk penyebar agama Islam. Salah satu diantaranya adalah seorang perempuan yang dianggap suci bernama Bagus Kuning. Konon, ia adalah salah satu murid dari sembilan wali di Pulau Jawa yang dikenal dengan nama Walisongo.Kehadirannya di Palembang adalah untuk menyebarkan agama Islam.


Perjalanan menuju Palembang tentu saja tidak mudah. Banyak halangan dan rintangan yang harus ia hadapi dan atasi. Demikian pula dengan ajaran yang disampaikannya, tidak begitu saja diterima oleh penduduk setempat. Bahkan ia sering harus bertarung dan siap mengorbankan jiwanya demi menyebarkan ajaran Rasulullah. Beruntunglah dia memiliki bekal kepandaian yang cukup hebat untuk membela diri sehingga banyak musuh yang dapat ditaklukkan dan turut memeluk agama Islam.

Ketika Bagus Kuning memasuki wilayah perairan Batanghari, ia pun harus berhadapan dengan para pendekar setempat yang berilmu tinggi. Namun ia tetap menghadapinya dengan sabar dan memantapkan keyakinannya bahwa cukuplah Allah SWT pelindung dan penolong baginya. Pada akhirnya ia mampu menaklukkan para pendekar di wilayah batanghari ini, konon ada 11 penghulu yang dipercaya masyarakat sebagai pengikut setia Bagus Kuning, yaitu Penghulu Gede, Datuk Buyung, Kuncung Emas, Panglima Bisu, Panglima Api, Syekh Ali Akbar, Syekh Maulana Malik Ibrahim, Syekh Idrus, Putri Kembang Dadar, Putri Rambut Selako, dan Bujang Juaro.

Setelah mampu menguasai wilayah Batanghari, Bagus Kuning dan anak buahnya pun memasuki tengah kota Palembang. Kemudian mereka singgah di bagian hulu kota yang sekarang dikenal dengan nama Plaju. Di tempat ini mereka mendapati suatu dataran rendah yang ditumbuhi pohon-pohon besar yang rindang dan teduh. Mereka pun beristirahat dengan nyaman.

Setelah bermalam barulah Bagus Kuning menyadari tempat tersebut bukanlah tempat yang aman. Tempat yang berada di tepia sungai Musi itu ternyata merupakan kerajaan Siluman Kera. Para siluman kera di tempat ini tampaknya merasa terganggu dengan kedatangan rombongan Bagus Kuning dan mencoba untuk menakut-nakuti.


“Maaf, kami tidak bermaksud untuk mengganggu. Kami hanya menumpang singgah untuk melepas lelah karena kami lihat tempat ini cukup indah dan nyaman,” berkata Bagus Kuning kepada rombongan siluman kera.

Namun, para siluman kera tidak mau tahu. Mereka mengancam akan membunuh rombongan Bagus Kuning jika mereka tidak mau pergi meninggalkan wilayah kekuasaan siluman kera ini.

“Kami mendengar bahwa kalian adalah para penyebara ajaran Islam, pantang bagi kami untuk melepaskan kalian karena itu sama saja kami membantu kalian!", ucap Raja Siluman Kera.

Tampaknya percekcokan antara Bagus Kuning dan Raja Siluman tak dapat dielakkan lagi dan keduanya sama-sama tidak mau mengalah. Akhirnya pertarunganpun tak dapat terhindarkan lagi. Mereka dan pasukannya masing-masing saling menyerang dan saling adu kekuatan.

“Hai Raja Siluman Kera, aku tidak mau mengorbankan banyak teman-temanku hanya untuk menghadapimu. Sebagai pemimpin disini aku ingin mengajukan sebuah perjanjian kepadamu, jika aku kalah menghadapi satu lawan satu makan aku akan tunduk kepadamu. Sebaliknya, jika kau yang ku kalahkan maka kau harus tunduk kepadaku!’’ tantang Bagus Kuning.


“Tidak masalah bagiku, hai Bagus Kuning! Hai rakyatku, kalianlah saksi atas perjanjian ini yang mana jika aku dapat dikalahkan oleh perempuan ini maka aku dan juga kalian harus tunduk dan patuh terhadap manusia perempuan ini. Bahkan jika kau menang hai Bagus Kuning maka akan ku angkat kau sebagai ratu kami.” Balas Raja Siluman Kera dengan nada yang agak meremehkan.

Para siluman kera pun segara menepi untuk memberi ruang para Raja mereka. Demikian pula para pengikut Bagus Kuning yang juga menepi sambil terus melafalkan doa-doa keselamatan dan kemenangan bagi mereka.

Pertarungan akhirnya dimulai. Bumi bagaikan bergetar, pohon-pohon pun bergoyang bagikan diayun-ayun angin besar, suara gemuruh mengiringi pertarungan ini tapi tak ada angin. Ini semua karena kesaktian Raja Siluman dan kekuatan karomah Bagus Kuning. Kedua-duanya adalah orang yang memiliki kekuatan yang sangat hebat dan seimbang sehingga keduanya susah untuk merubuhkan musuh masing-masing.

Setelah beberapa lama, sejak pertarungan yang dimulai pagi hari kini matahari pun telah berdiri tegak menyinari dengan teriknya akhirnya nampak jualah siapa yang bakal menjadi pemenang dalam pertarungan ini. Beberapa kali Raja Siluman Kera terbanting keras. Darahpun banyak keluar dari mulut dan hidungnya. Napasnya pun makin tersengal-sengal dan wajahnya pucat. Namun sesekali ia masih dapat membalas dengan usahanya yang sangat berat. Tapi karena kondisinya yang cukup parah setelah mendapatkan terjangan maut dari Bagus Kuning ia pun roboh dan sang Raja Siluman kera ini mengaku kalah (menyerah).

“Baiklah Bagus Kuning, hamba mengaku kalah, hamba menyerah. Kami semua takluk padamu.” Kata Raja Siluman kera dengan lantang sambil bersujud dan memberi hormat kepada Bagus Kuning yang diikuti oleh para siluman kera yang lain. 

“Selanjutnya, setelah ini maka perjanjian yang kita buat tadi harus dijalankan, kau lah Ratu kami hai Bagus Kuning.” Lanjut Raja Siluman Kera dan diikuti oleh penghormatan oleh para siluman kera lainnya.


“Baiklah, tapi kalian tidak perlu bersujud begikut karena hal yang demikian ini adalah tidak patut dilakukan karena aku hanyalah seorang manusia biasa begitu juga kalian yang merupakan sama-sama makhluk Allah, bagiku hanya Dia (Allah SWT) yang patut disembah dan patut dimintai pertolongan.’’ Kata Bagus Kuning.


Bagus Kuning pun akhirnya menetap di tempat itu bersama para pengikutnya. Sampai kemudian para pengikutnya sepakat mendirikan keraton dengan Bagus Kuning sebagai Ratunya. Sejak saat itu namanya resmi menjadi Ratu Bagus Kuning dan para siluman kera pun tetap menetap di tempat itu dan tetap tunduk pada Ratu Bagus Kuning hingga pada suatu hari Ratu Bagus Kuning pun wafat dan disemayamkan di lokasi keratonnya. Para pengikutnya tetap setia dan terus menyebarkan ajaran Islam ke wilayah-wilayah lain. Para siluman kera pun tetap setia menunggui makam Ratu Bagus Kuning. Konon, sampai wafatnya Ratu Bagus Kuning tetap menjadi perempuan yang suci dan ia tidak pernah menikah.


Sampai saat ini, lokasi tempat keraton Ratu Bagus Kuning dan sekitarnya disebut dengan Bagus Kuning yang terletak di Kecamatan Plaju, Kota Palembang. Kini lokasi keraton sudah tidak ada lagi karena tempat tersebut sejak zaman kolonial telah dijadikan lokasi perumahan karyawan perusahaan minyak pemerintah yang kini bernama Pertamina. Kini hanya tersisa makam yang dipercaya sebagai makam Ratu Bagus Kuning didalam kompleks perumahan pertamina dan diantara Lapangan Golf Plaju yang masih sering diziarahi oleh masyarakat muslim kota Palembang khususnya oleh waga Palembang keturunan Arab-Hadhramaut yang merasa memiliki kedekatan hubungan emosional dan garis keturunan yang sama karena di percaya pula bahwa Ratu Bagus Kuning adalah seorang Waliyah (Wali Perempuan) dan seorang Syarifah (Perempuan keturunan Nabi Muhammad saw).


Para Siluman Kera kini dipercaya masih tinggal diwilayah tersebut terutama di Stadion Patra Jaya Pertamina, Plaju yang konon katanya jumlah kera disitu tetap tidak berkurang dan tidak lebih. 

Kesimpulan
Cerita ini merupakan mithe bagi masyarakat Plaju Palembang. Hikmah yang dapat dipetik dari ceritaini adalah hendaknya kita tidak takut dalam menegakkan kebenaran dan keadilan dan menjalankan syariat Islam. Yakinlah Allah SWT akan menolong melindungi siapapun hambanya  yang beriman kepada-Nya.

(PUTRI KEMBANG DADAR)

Ribuan tahun yang lalu sebelum berdiri kerajaan  besar, telah berdiri  kerajaan-kerajaan kecil, yang memiliki rajanya masing-masing.
Salah satu kerajaan itu adalah kerajaan Hulu, juga berdirinya kerajaan yang dinamakan kerajaan Hilir.
Diantara kerajaan ini terjadi suatu perselisihan, sehingga tampaknya tak pernah damai diantara keduanya, ada saja keributan yang terjadi diantara mereka.
Disebuah pendopo kerajaan Hilir terlihat bersama-sama dengan para penggawanya dan juga para prajurit kerajaan, sepertinya tengah mengadakan rapat.
Sepertinya raja Hilir tengah memimpin sebuah rapat, tampak  jelas ada masalah yang penting tengah mereka bahas.
“Apakah persiapan pasukan sudah betul-betul handal?” tanya raja Hilir yang sedang memimpin rapat tersebut.
Seorang Panglima kerajaan berdiri dengan gagahnya,”baginda Raja, pasukan sudah siap untuk berangkat.”
Di luar, dihalaman kerajaan,  para prajurit tengah berbaris siap untuk menerima suatu perintah dari raja mereka , yaitu dari raja Hilir.
Keluarlah Sang Raja  dengah penampilan yang sangat perkasa, sembari ia memperhatikan pada semua yang ada, disaat itu ia berkata,”para prajurit sekalian, saya harapkan tugas kalian kali ini untuk mengalahkan kerajaan Hulu itu akan berhasil.” Perintah raja Hilir pada semua prajuritnya yang hadir.
Setelah mereka mendengarkan perintah dan seruan itu, mereka berangkat dengan penuh semangat sekali.
 
 
                                                        1.
Pasukan kerajaan Hilir berangkat dengan menggunakan perahu yang besar, kini setiap tahun sekali bentuk perahu ini di meriahkan dengan cara lomba bidar.Yaitu setiap pada hari kemerdekaan republik Indonesia atau hari ulang tahun kota Palembang. Disebut perahu Bidar.
Di kerajaan Hulu, seorang prajurit pengintai dengan sangat tergesa-gesa berlari-lari. Sepertinya ia akan menuju atau menghadap raja Hulu yang tengah berada di ruang kumpul istana raja.
“Raja yang mulia, terlihat rombongan pasukan datang kemari,”ungkap prajurit itu ketika ia berada di hadapan raja Hulu.
Dimana pada saat itu Sang raja tengah mengadakan rapat, karena terlihat semua para penggawa dan juga prajurit, serta   panglimanya juga hadir pada waktu itu.
Raja Hulu hanya tersenyum, raja muda yang perkasa itu terdiam sembari ia berkata,”persiapkan pasukan, tunggu mereka datang di perbatasan kerajaan, lalu habisi mereka.”
Ternyata benar bahwa kedatangan pasukan kerajaan Hilir itu, sesungguhnya sudah di ketahui oleh Raja Hulu, sehingga mereka telah mempersiapkan untuk penyambutan kedatangan mereka.
Terdengar dengan lantang seruan dan teriakan, suatu aba-aba penyerangan yang di perintahkan oleh Raja Hulu, sepertinya pasukan Raja Hilir mendengar seruan itu dari arah kiri mereka.
“Kudengar dengan jelas bahwa pasukan itu datang dari arah kiri, ungkap pimpinan pasukan kerajaan Hilir.
Disisi  lain pasukan prajurit kerajaan Hulu tengah bersiap-siap akan menyerang, sambil mereka mengendap-endap dibalik semak belukar itu, yang tepat berada di belakang mereka.
“Aku mendengar langkah yang segera mendekat,”ungkap pemimpin pasukan dari kerajaan Hilir.
                                                            2.
Mereka merasa yakin bahwa mereka sudah di dekati oleh pasukan dari kerajaan Hulu, jelas menurut mereka itu datang dari sebelah kiri mereka, oleh karena itu mereka tengah mempersiapkan untuk melakukan penyerangan.
“Serang…….kawan-kawan, saya akan memberikan tanda lemparan keatas,”seru pemimpin pasukan dari kerajaan Hilir, dengan segera ia memberikan tanda  penyerangan.
Serentak saja mereka melakukan penyerangan itu sesuai dengan petunjuk yang disampaikan oleh pemimpin mereka pada waktu itu. Segera saja mereka melakukan penyerangan itu.
Hanya dengan satu teriakan mereka segera melakukannya, namun serangan itu dilakukan betapa sangat terkejutnya mereka bahwa , penyerangan itu sangat sia-sia sekali.
Disaat itulah munculnya serangan dari arah kanan mereka, sehingga dengan  sangat kacau balaunya, pasukan Hilir jadi berantakan, sangat tidak terduga sekali bahwa serangan itu akan datang dari sebalah kanan itu, sehingga pasukan kerajaan Hilir tak dapat berbuat apa-apa lagi.
Usai perang itu, pemimpin pasukan kerajaan Hulu, hanya dengan mengambil potongan kepala dari pimpinan pasukan kerajaan Hilir saja, hal itu sebagai bukti nyata bahwa pasukan kerajaan Hilir sudah takluk.
Dari pihak kerajaan Hilir, sepertinya sudah mengetahui bahwa prajuritnya yang mereka kirim itu mengalami suatu kekalahan, Raja merasa ini suatu kekalahan yang besar.
Sepertinya raja Hilir marah besar dengan kekalahan ini, ia menjadi merah padam, bertambah berang hatinya, karena mengalami kekalahan ini, ia juga tahu bahwa pimpinan pasukan yang dia kirim juga mati terbunuh.
“Sekarang ingatlah, ini adalah suatu kekalahan yang besar bagi kita, kita harus pikirkan apa yang harus kita lakukan selanjutnya,” seru Raja Hilir.
 
                                                                     3.
Para prajurit dan juga para pemimpin, dan juga penasehat Raja disaat itu hanya diam seribu bahasa, mereka tanpa ada suara yang terdengar, mereka hanya pandangi tindak tanduk yang dilakukan Raja.
 
Pada saat itu, seorang putri yang cantik jelita, tengah memperhatikan apa yang dilakukan oleh orang tuanya, ia hadir pada saat itu.
Putri ini sering dipanggil dengan nama Putri Kembang Dadar, kecantikannya sangat terkenal dipenjuru kerajaan, banyak para raja yang tertarik akan kecantikannya.
Sesaat Raja mengatakan, “adakah diantara kalian yang akan sanggup  untuk memimpin pasukan, hal ini bukan kita takuti tapi harus kita lawan.”
Namun tak seorangpun ada yang berani menyatakan pendapatnya, mereka hanya diam.
Raja memandang pada semua arah, pada semua yang hadir pada waktu itu, sehingga ia tertuju pada anak kesayanganya,”wahai anaku, apakah ada pendapatmu tentang kejadian ini, sepertinya kau tampak tenang, tanpa terlihat gelisah apalagi takut.”
Putri Kembang Dadar hanya tersenyum mendengar seruan dari orang tuanya itu, sembari ia berkata,”ayah handa ,jika di izinkan ananda mau berpendapat, tentang persoalan ini.”
Raja memandangnya dengan sangat penuh perhatian sekali, ia pandangi anak kesayangan itu,”silahkan ananda untuk menyatakan pendapatnya, siapa saja yang akan mengajukan pendapatnya.
Mendengar dari ucapan yang disampaikan oleh orang tuanya itu, Putri Kembang Dadar merasa lega, ia senyum dengan lantang ia mengatakan, “ayah izinkan aku untuk berangkat menuju kerajaan Hulu, ananda tak akan pulang jika ananda tidak berhasil.”
 
                                                                 4.
Suatu pernyataan yang tak terduga dari suara anak kesayanganya itu, apalagi anaknya adalah seorang putri , seakan ia tak percaya itu keluar dari hati dan suara yang keluar seorang yang cantik jelita seperti anaknya itu.
“Tidakah ananda  sadar apa yang telah di sampaikan ini, apakah ini suara dari lubuk hati yang paling dalam,”ungkap Raja Hilir kepada anak kesayanganya itu.
Mendengar itu, Raja dari suara hatinya berbisik, betapa berani anaknya ini, tidak perduli bahwa dia seorang perempuan, tak sedikit pun terlihat bahwa ada rasa takut di raut wajahnya.
“Ini aku sampaikan dengan penuh kesadaran, aku sudah bulat tekatku,” ungkap Putri Kembang Dadar , dengan  suara yang merdu, sehingga membuat kagum para hadirin yang ada dalam ruang .
Raja Hilir merasa sangat yakin, apa yang telah disampaikan oleh anaknya itu,”anaku jika itu sudah menjadi tekatmu, tak dapat aku mengahalanginya, aku hanya berdoa kau akan berhasil nantinya.”
Semua yang hadir  terkagum-kagum, mereka memandangi Putri Kembang Dadar , yang berangkat meninggalkan kerajaan Hilir, yang hanya didampingi dengan beberapa orang saja.
Raja Hilir hanya memandang kepergian anaknya, ia tak menduga sama sekali bahwa anaknya yang akan pergi  untuk menyelidik, hal itu juga di iringi oleh para penggawa kerajaan, serta juga disaksikan oleh rakyatnya.
Putri Kembang Dadar Hanya menggunakan pakaian layaknya seorang rakyat biasa saja.Ia  berjalan   dengan gemulainya, mendekati keramaian, ini berada di sekitar istana Raja Hulu.
Walaupun demikian keberadaan Putri Kembang Dadar itu, tetap saja di awasi oleh para prajurit kerajaan dari kejauhan, ia menyamar sebagai seorang penjual sayuran yang berada di pinggiran istana.
Tentu saja penyamaran ini dia lakukan agar melihat dengan dekat wajah Raja Hulu, tentu saja meskipun ia menyamar sebagai seorang tukang sayur, kecantikanya tak dapat di sembunyikan.
                                                                 5.
Disaat itu Raja Hulu yang tampan dan muda belia, sekilas ia memandang bahwa  ada seorang pedagang sayur yang begitu cantiknya,”Prajurit kau panggil  wanita itu, bawa dia kemari!”
Tanpa banyak bicara prajurit itu mendakati pedagang , yang tiada lain itu adalah Putri Kembang Dadar,  yang menyamar sebagai seorang pedagang sayuran.
Putri Kembang Dadar tahu, ia hanya merasa  dan berkata dalam hatinya, bahwa Raja Hulu ternyata adalah seorang yang tampan. Tetapi di juga sadar bahwa ini perangkapnya sudah kena.
Bukan main terpesonanya Raja Hulu, ia hanya berkata dalam hatinya, begitu cantiknya wanita ini, “kau ikut keistana sekarang juga, kau adalah layak jadi seorang permaisuri saja.”
 Ternyata bukan hanya Raja yang terpesona, tetapi beberapa pengikutnya, spertinya sadar bahwa benar bahwa wanita itu memang cantik sekali, tidak salah Raja kita memilih wanita ini, seorang prajurit berbisik lembut.
Bukan itu saja tetapi Sang Raja juga merasa, bahwa menurut hatinya , wanita ini adalah benar bahwa dia bukan orang sembarang, tapi seorang putri yang datang dari langit.
Segera saja raja berserta dengan rombongan dengan memboyong Putri Kembang Dadar ke istana Raja Hulu. Ketika sampai di istana, Raja segera memanggil dayang-dayang,”Hei dayang-dayang ,coba kau ganti pakaian wanita ini lalu kau berikan ia pakaian yang terbaik yang kita punya.Jika tidak ada kau cari di penjuru kerajaan, bila perlu kau beli keluar.”
Sehingga di istana tampak terjadi suatu kesibukan yang mendadak, para prajurit, juga rakyat tersebar sudah bahwa Raja mereka telah menemukan seorang putri yang cantik jelita.
 
 
                                                               6.
Pesan Raja yang disampaikan itu, menjadi suatu kesibukan bagi dayang-dayang, penghias raja itu, menjadi terpesona, ketika ia melihat wanita itu , ia juga ikut kagum dengan kecantikan yang di miliki Putri Kembang Dadar itu, sehingga tanpa sadar dayang itu berkata,”pantas raja jadi bersemangat, kecantikan wanita ini luar biasa, tak satupun ada gadis yang ada di kerajaan ini, yang   dapat menandingi kecantikannya.”
Ketika Putri Kembang Dadar bagun dari tidur, dan ia dihiasai dengan cantiknya oleh dayang, dengan pakaian yang layaknya seorang putri dan calon seorang permaisuri, para penggawa terpesona  melihatnya.
Disaat itulah  muncul Raja Hulu, tetapi ia tersentak  bukan kepalang, ketika  ia melihat Putri Kembang Dadar,  kecantikan itu kini juga disaksikan oleh semua orang yang ada. Semua yang hadir terpikat memandangnya.
Raja Hulu berdiri dengan gagah perkasa, ia memandangi semua prajurit juga para penggawanya, yang juga diwakili oleh rakyatnya yang menyaksikan perayaan itu.
“Para hadirin yang hadir, mulai saat ini , kalian telah memiliki seorang putri, wanita yang ada di hadapan kalian ini adalah sebagai  permaisurinya. Ia adalah yang bernama Putri Kembang Dadar,”jelas Raja Hulu kepada semua penggawanya, juga pada para prajuritnya, dan rakyatnya yang hadir.
Sejak itu Putri Kembang Dadar telah menjadi istri dari Raja Hulu, berita ini sudah sampai pada Raja Hilir. Karena itu dikala Permaisuri Putri Kembang Dadar tengah beristirahat datanglah secara rahasia seorang utusan dari Raja Hilir.
“Katakan saja, bahwa aku  akan segera datang ,”ungkap Permasuri Raja Hulu itu, yang tida lain adalah Putri Kembang Dadar.
Segera saja prajurit itu meninggalkan istana raja Hulu, ia segera menuju pulang, untuk melaporkan keadaan yang terjadi.
 
                                                              7.
Belum prajurit itu tiba di istananya, tetapi Putri Kembang Dadar sudah berada di istana orang tuanya, karena ia dapat menghadirkan diri langsung tanpa harus menggunakan jasat yang menjalani secara kasar seperti manusia   biasanya.
“Anaku kau tampak makin cantik, aku tahu kalau sudah menjadi istrinya Raja Hulu,”tutur Raja Hilir pada anaknya yang kini menjadi  seorang permasuri .
“Ayahanda adalah benar, aku bangga dengan perkawinan ini, namun aku hanya memohon, agar tidak lagi terjadinya suatu permusuhan  diantara kedua kerajaan ini,’ungkap Putri Kembang Dadar pada orang tuanya itu.
Pada akhirnya Putri Kembang Dadar dapat menyatukan kedua kerajaan, sehingga tidak lagi terjadinya permusuhan.
Putri Kembang Dadar, mempersembahkan satu tubuhnya untuk istana kerajaan Hilir, namun di lain pihak ia tetap berada di istana kerajaan Hulu, sehingga terjadilah suatu perdamaian, yang tiada lagi terjadinya perselisihan di antara mereka.
Perdamaian kedua kerajaan menjadi senangnya para rakyat, karena telah menyatukan dua kerajaan yang selama ini bermusuhan kini menyatu, sungguh besar pengorbanan yang dia berikan untuk ini.
Hingga kini kadangkala ia sering di undang oleh para normal secara gaib, itu untuk suatu ritual gaib yang dilakukan para golongan, para normal yang ada di Sumatera Selatan.(kamil)

Asal Mula Nama Palembang



Pada zaman dahulu, daerah Sumatra Selatan dan sebagian Provinsi Jambi berupa hutan belantara yang unik dan indah. Puluhan sungai besar dan kecil yang berasal dari Bukit Barisan, pegunungan sekitar Gunung Dempo, dan Danau Ranau mengalir di wilayah itu. Maka, wilayah itu dikenal dengan nama Ba*tanghari Sembilan. Sungai besar yang mengalir di wilayah itu di antaranya Sungai Komering, Sungai Lematang, Sungai Ogan, Sungai Rawas, dan beberapa sungai yang bermuara di Sungai Musi. Ada dua Sungai Musi yang bermuara di laut di daerah yang berdekatan, yaitu Sungai Musi yang melalui Palembang dan Sungai Musi Banyuasin agak di sebelah utara.
Karena banyak sungai besar, dataran rendah yang melingkar dari daerah Jambi, Sumatra Selatan, sampai Provinsi Lampung merupakan daerah yang banyak mempunyai danau kecil. Asal mula danau-danau kecil itu adalah rawa yang digenangi air laut saat pasang. Sedangkan kota Palembang yang dikenal sekarang menurut sejarah adalah sebuah pulau di Sungai Melayu. Pulau kecil itu berupa bukit yang diberi nama Bukit Seguntang Mahameru.
Keunikan tempat itu selain hutan rimbanya yang lebat dan banyaknya danau-danau kecil, dan aneka bunga yang tumbuh subur, sepanjang wilayah itu dihuni oleh seorang dewi bersama dayang-dayangnya. Dewi itu disebut Putri Kahyangan. Sebenarnya, dia bernama Putri Ayu Sundari. Dewi dan dayang-dayangnya itu mendiami hutan rimba raya, lereng, dan puncak Bukit Barisan serta kepulauan yang sekarang dikenal dengan Malaysia. Mereka gemar datang ke daerah Batanghari Sembilan untuk bercengkerama dan mandi di danau, sungai yang jernih, atau pantai yang luas, landai, dan panjang.
Karena banyaknya sungai yang bermuara ke laut, maka pada zaman itu para pelayar mudah masuk melalui sungai-sungai itu sampai ke dalam, bahkan sampai ke kaki pegunungan, yang ternyata daerah itu subur dan makmur. Maka terjadilah komunikasi antara para pedagang termasuk pedagang dari Cina dengan penduduk setempat. Daerah itu menjadi ramai oleh perdagangan antara penduduk setempat dengan pedagang. Akibatnya, dewi-dewi dari kahyangan merasa terganggu dan mencari tempat lain.
Sementara itu, orang-orang banyak datang di sekitar Sungai Musi untuk membuat rumah di sana. Karena Sumatra Selatan merupakan dataran rendah yang berawa, maka penduduknya membuat rumah yang disebut dengan rakit.
Saat itu Bukit Seguntang Mahameru menjadi pusat perhatian manusia karena tanahnya yang subur dan aneka bunga tubuh di daerah itu. Sungai Melayu tempat Bukit Seguntang Mahameru berada juga menjadi terkenal.
Oleh karena itu, orang yang telah bermukim di Sungai Melayu, terutama penduduk kota Palembang, sekarang menamakan diri sebagai penduduk Sungai Melayu, yang kemudian berubah menjadi pen*duduk Melayu.
Menurut bahasa Melayu tua, kata lembang berarti dataran rendah yang banyak digenangi air, kadang tenggelam kadang kering. Jadi, penduduk dataran tinggi yang hendak ke Palembang sering me*ngatakan akan ke Lembang. Begitu juga para pendatang yang masuk ke Sungai Musi mengatakan akan ke Lembang.
Alkisah ketika Putri Ayu Sundari dan pengiringnya masih berada di Bukit Seguntang Mahameru, ada sebuah kapal yang mengalami kecelakaan di pantai Sumatra Selatan. Tiga orang kakak beradik itu ada*lah putra raja Iskandar Zulkarnain. Mereka selamat dari kecelakaan dan terdampar di Bukit Seguntang Mahameru.
Mereka disambut Putri Ayu Sundari. Putra tertua Raja Iskandar Zulkarnain, Sang Sapurba kemudian menikah dengan Putri Ayu Sundari dan kedua saudaranya menikah dengan keluarga putri itu.
Karena Bukit Seguntang Mahameru berdiam di Sungai Melayu, maka Sang Sapurba dan istrinya mengaku sebagai orang Melayu. Anak cucu mereka kemudian berkembang dan ikut kegiatan di daerah Lembang. Nama Lembang semakin terkenal. Kemudian ketika orang hendak ke Lembang selalu mengatakan akan ke Palembang. Kata pa dalam bahasa Melayu tua menunjukkan daerah atau lokasi. Pertumbuhan ekonomi semakin ramai. Sungai Musi dan Sungai Musi Banyuasin menjadi jalur per*dagangan kuat terkenal sampai ke negara lain. Nama Lembang pun berubah menjadi Palembang.

Hikayat Antu Ayek


Sumatera Selatan merupakan wilayah yang banyak dialiri sungai-sungai. Setidaknya ada sembilan sungai besar yang mengalir di propinsi ini, sehingga gelar lain propinsi ini adalah Negeri Batanghari Sembilan. Batanghari dalam bahasa melayu Palembang diartikan sebagai sungai besar. Nah, ada banyak hikayat atau cerita yang berkembang di masyarakat yang mengiringi keberadaan sungai-sungai tersebut. Seperti legenda cinta Pulau Kemaro di sungai Musi. Cerita lain yang aku kenal di kampungku adalah legenda Antu Ayek yang sering kudengar semasa kanak-kanak, entah adakah kisah ini di daerah lain. Antu Ayek dalam bahasa Indonesia berarti Hantu Air. Penasaran? Baca dong posting ini sampai selesai.
Konon kabarnya, dahulu kala hiduplah seorang gadis dari keluarga sederhana bernama Juani. Juani merupakan gadis kampung yang elok rupawan, berkulit kuning langsat dan rambut panjangnya yang hitam lebat. Keelokan rupa Gadis Juani sudah begitu terkenal di kalangan masyarakat. Sehingga wajar kiranya jika banyak bujang yang berharap bisa duduk bersanding dengannya. Namun apalah daya, Gadis Juani belum mau menentukan pilihan hati kepada satu bujang pun di kampungnya. Hingga, pada suatu masa, bapak Gadis Juani terpaksa menerima pinangan dari Bujang Juandan, karena terjerat hutang dengan keluarga Bujang Juandan. Bujang Juandan adalah pemuda dari keluarga kaya raya, namun yang menjadi masalah adalah Bujang Juandan bukanlah pemuda tampan. Bahkan tidak sekadar kurang tampan, Bujang Juandan pun menderita penyakit kulit di sekujur tubuhnya, sehingga ia pun dikenal sebagai Bujang Kurap.
Mendengar kabar itu, Gadis Juani pun bersedih hati. Ia hendak menolak namun tak kuasa karena kasihan kepada bapaknya. Berhari-hari ia menangisi nasibnya yang begitu malang. Namun apa hendak dikata, pesta pernikahan pun sudah mulai dipersiapkan. Orang sekampung ikut sibuk menyiapkan upacara perkawinan Gadis Juani dan Bujang Juandan. Akhirnya malam perkawinan itu pun tiba, Gadis Juani yang cantik dipakaikan aesan penganten yang begitu anggun menunggu di kamar tidurnya sambil berurai air mata.
Ketika orang serumah turun menyambut kedatangan arak-arakan rombongan Bujang Juandan, hati Gadis Juani semakin hancur. Di tengah kekalutan pikiran, ia pun mengambil keputusan, dengan berurai air mata ia keluar lewat pintu belakang dan berlari menuju sungai. Akhirnya dengan berurai air mata Gadis Juani pun mengakhiri hidupnya dengan terjun ke sungai. Kematiannya yang penuh derita menjadikannya arwah penunggu sungai yang dikenal sebagai Antu Ayek yang sering mencari korban anak-anak.
Begitulah asal mula hikayat Antu Ayek di daerahku. Meski kisah ini sangat “hidup” di tengah masyarakat, aku pribadi menilai kisah ini hanya untuk menakuti anak-anak kecil yang belum pandai berenang agar tidak sembarangan bermain sendiri di sungai. Karena tidak sedikit nyawa anak-anak yang melayang akibat tenggelam di sungai. Lucunya, semasa kecil aku sering diajarkan mantera pengusir Antu Ayek oleh orang-orang tua bilamana akan ke kayek (pergi ke sungai). “Nyisih kau Gadis Juani, Bujang Juandan nak ke kayek” (Menyingkirlah engkau gadis Juani, Bujang Juandan hendak turun ke sungai), konon kalau kita baca syair itu Antu Ayek akan menjauh karena enggan bertemu si Bujang Kurap hehe…