by:chs~
Entah sejak kapan aku tertarik pada senja. Sebelum mengenal
dirimu, dirinya atau setelah dari itu. Sekilas
mata senja bukan apa-apa. Terkait betapa
indahnya senja memiliki waktu tertentu. Mengikat antara cahaya dan gelap hingga
menciptakan gradasi jingga yang terkadang indah. Tak perlu dipungkiri, jika
senja yang tampak dimata mu kurang indah, kau hanya perlu membuka kamera dan
memotretnya hingga kau tau betapa indahnya senja.
Kau juga pasti tau bahwa senja hanya sejenak. Malam yang
gelap akan tiba. Sunyi nan mencekam terasa bila kau merasa takut. Pikiranmu
yang bergemuruh menghasilkan imajinasi yang tak kau inginkan hingga kau tau
bahwa kau hanya sendiri tanpa ada bunyinya ataupun dia. Air mata mu mengalir,
mengharap sebuah harapan untuk melewati malam yang mencekam bersamanya. Kau selalu
sadar bahwa harapan kan selalu menjadi harapan tanpa ada usaha yang kuat.
Menunggu, hanya itu yang kau bisa. Untuk apa kau menunggunya
yang sudah pasti tak akan datang. Menghabiskan hari-harimu dengan memikirkannya
yang tak memikirkanmu secuil pun. Lalu kau menangis, tersedu-sedu seolah semua
salahmu. Kau mau berubah untuk tidak mengulangi salahmu. Detik saat kau lakukan
itu, detik itu juga kepalsuan menghantui dirimu. Menjauhkan kenyataan yang
telah melekat didalam jiwamu. Melalui hari-hari dengan pribadi yang bukan
seharusnya. Lalu apa dia akan datang ?
Tertekan dengan pribadi yang sekarang bukan? Kau melukai
dirimu sendiri dengan jarum jarum yang tancap perlahan. Hati yang teah busuk
meracuni pikiranmu. Perbedaan antara kata hati dan otak tak memiliki arti lagi.
Keduanya tak ada yang ia dengar. Apalagi kata orang. Nasihat demi nasihat sering kali kau lewati. Tak ada yang mengerti
dirimu,katamu. Padahal kau sendiri yang tak mengerti dirimu. Selalu saja kau
menyalahkan mereka yang ingin membawamu jauh. Hal indah yang kau impikan
layaknya senja terbenam oleh mendungnya hatimu. Pikiran lusuh juga tak banyak
membantu.
Kau terjebak hanya karena dia yang sudah bosan denganmu. Kau
relakan segalanya agar ia kembali. Bodohnya dirimu, hingga kau menjadi orang
yang sangat menyedihkan. Jauh sebelum aku mengenalmu, kau adalah manusia
tangguh. Sekarang kau bodoh sebodoh bodohnya. Semua orang melepaskan dan mengenyahkan
mu. Kini kau benar-benar jatuh. Tak ada seorang pun acuh kepadamu. Boom!
Kau ditertawakan oleh mereka. Terlebih lagi oleh dia! Dia manusia
yang katanya pernah sayang kepadamu. “Ayo bangkitlah!” itu isi benakmu bukan? Kau
butuh mereka yang lebih memperhatikanmu bukan? Kau tak pernah sadar bila ada bahkan
banyak orang yang memperhatikan dan mempedulikanmu. Kini mereka muak. Mereka menyerahkan
segalanya kepadamu.
Jatuh sedalam-dalamnya kedalam stigma yang telah kau buat
hanya ingin menjadi pribadi yang baru membuat mu tertekan dengan segala hal
yang terlah terjadi tersebut.
Keluarlah!
Hingga esok kulihat ceria dimata mu.
Membaca segala keraguan yang ada, untuk memperbaiki
segalanya. Jangan takut, aku (pribadi lamamu) akan selalu bersamamu.
Aku (pribadi lamamu) bukan mereka yang akan meninggalkanmu
dikala mereka mulai muak. Menatap selama apapun yang kau mau hingga kau lelah
dan terlelap dalam senyuman.
Angkat kepalamu hingga kau tau, bahwa kau lebih dari yang
kau kira. Buatlah kesedihanmu menjadi senja yang pasti datang tapi kau anggap
itu indah. Tersenyumlah layaknya bulan yang datang walau gelap menyelimuti. Cerialah
layaknya matahari yang meski ditinggalkan bulan tapi tetap bersinar.
