Indralaya kota kecil tak jauh dari kota Palembang. Belum banyak kemajuan dari kota yang masih asri dan banyak pepohonan. Jarak tempuhnya sekitar 30km dari Palembang melewati aspal hitam lurus. Kiri kanannya ada pepohonan, sedikit, rumah penduduk, dan beberapa perusahaan.
Saat ku telusuri jalan hitam ini, ku terpaku dengan salah satu pohon di kota ini.
Letaknya di tengah-tengah tanah merah layaknya telah terjadi pertumpahan darah. Lalu kulihat di tengah pohonnya mengeluarkan air. Lalu ku tanya kepada pohon tersebut.
Kenapa engkau menangis wahai pohon Malang?
Oh tidak..Aku sedang berbahagia.
Kenapa?
Lihatlah wahai manusia..tubuhku tak ada dedaunan apalagi bunga lalu semakin ke ujung ranting semakin kecil.
Kenapa engkau tak bersedih wahai pohon?
Untuk apa bersedih sedangkan kita masih diberi nikmat yang banyak.
Nikmat apa saja yang mengaku maksud?
Walau kering keronta, jelek, dan tak berdaya aku masih diberi kesempatan untuk terus memberikan oksigen. Menolong orang lain dgn apa aku bisa beri. Dan masih banyak lagi.
Apakah kau tahu tak ada pohon lain di sekitar mu?
Iya ku tahu.. Di tanah merah seluas ini hanya aku penghuninya. Apa karena tanah disini tak subur?
Oh tidak.. Tanah merah layaknya darah ini sangat subur. Bahkan unsur hara disini lebih kaya dibanding tanah pada umumnya.
Apa mereka tak tahu wahai pohon?
Bersambung..