Ku buka album foto keluarga ku. Hati yang lemah ini mudah
saja teriris. Terekam semua gerak gerik dan omongan dari tiap foto tersebut.
Bagaimana harmonisnya keluargaku dahulu. Gelak tawa yang tak berkesudahan tiap
saatnya. Namun terkadang ada juga tangis dan amarah dikarenakan ulah kami para
anaknya.
Ku pejamkan mataku setelah ku membuka album tersebut. Oh
siapa yang terbayang bila aku langsung menangis tak berkesudahan. Padahal ada
banyak hal yang harus ku lakukan mengingat hari seminar ku sebentar lagi.
Kini ku merindu dan ingin kembali pada saat itu. Kini
raganya tak ada, mustahil bila itu terjadi. Disaat seperti inilah ku butuh ia.
Tak perlu hal lain, aku hanya butuh senyum dan belaian tangannya dirambutku.
Tangis ku semakin menjadi. Perjuangannya begitu hebat dalam
melawan penyakitnya. Waktu itu, aku ingin sekali cepat menyelesaikan masalah
ini. Aku kira aku tangguh. Aku kira aku bisa mengambil keputusan untuk mamaku
tercinta. Andai dari awal aku yang memutuskannya, pasti ia tak terlalu
merasakan penderitaan itu.
Anakmu telah tumbuh 2 tahun lebih tua dibanding waktu kau
lihat terakhir kali ma. Tak terlalu banyak perubahan pada kami. Aku yang masih
saja dikira lebih muda dari umurku dan adik yang semakin tinggi namun masih
tertutup. Ma, salahkah aku yang selalu menangis dikesendirian bila ku ingat
tentangmu ?
Ma, jauh dari hari ini. Ku ingat bagaimana caraku merawatmu.
Telponmu yang memintaku untuk ku segera pulang ke rumah padahal kuliah ku masih
ada. Kau hanya ingin dibersihkan dan dirawat olehku, ya ku ingat itu. Walau
dirumah ada uni dan bibi. Ma, ku rindu melakukan semuanya untuk mu. Memasak
masakan yang sangat sehat, menyuapi buah naga, dan membuatkan minum untukmu.
Emosi disaat aku kelelahan membuat penyesalan ku sekarang.
Ya, aku yakin mama memaafkan khilafku saat itu.
Ma, tunggu. Kami kan datang.
Palembang, 13
Maret 2019
~aci
Dua tahun lalu, 18 Maret 2017 menjadi hari duka bagi kami yang mama tinggalkan. semoga khusnul khotima mama, dan kita bertemu di syurganya Allah. Aamiin.