Bagai mengangkat isi bumi dengan jari kelingking rasanya. Sulit yang berujung menyakitkan.
Ketika ia mampu terangkat tapi langsung menimpa kaki.
Bengkak yang didapat mungkin juga tulang kaki yang patah.
Begitu jugalah kehidupan yang ku alami. Berkali-kali aku mencoba percaya kepada manusia, berkali-kali juga aku dibodohi.
Risau, bingung, lelah semuanya mengikat satu sama lain.
Rasa ini mengisak
Didera derita bila berpisah, katanya
Rasa ini menggema
Tak kuasa aku menutupnya
Inginkan pisah namun dilanda ragu
Mungkinkah benar katanya
Atau bahagia akhirnya
Bukti konkret tanpa manipulasi sedikit pun.
Terlepas dari insan yang ku pikir selalu membodohiku, termasuk hal yang melegakan bagiku. Tak perlu lagi aku mengeluarkan energi untuk memikirkan apakah ia jujur pada ku atau tidak. Siapa aku? Aku buka siapa-siapa untuknya. Bahkan untuk saling bertatap kami diharamkan.
Allah ku mengecam dalam batinku.
Diam disana,
jangan sampai kau jatuh lagi.
Diam disana
bersantailah
telah kupersiapkan semua.
Begitu kata tuhanku yang juga tuhannya. Namun, ada saja hal-hal yang mengingatkan tentangnya. Kisah manis layaknya ftv. Kisah klasik layaknya asmara anak abg. Kadang juga aku ragu tentang apa yang telah kuputuskan. Begitu juga tentang kesendirian ini. Yah aku sama dengan manusia lain, ada kalanya aku kesepian.
Perlahan ku buka lagi pagar setebal tembok cina. Ku sadar, aku tak bisa hidup sendiri. Ku sadar, aku harus mulai percaya dengan orang lain lagi. Terlebih tiap insan mempunyai watak yang berbeda dan juga tiap insan bisa berubah. Baik itu ke arah yang lebih baik, ataupun sebaliknya.
Ku harap, kejujuran masih melekat didiri kalian gaes. biar kita bisa saling percaya
Tidak ada komentar:
Posting Komentar