Salah satu kebiasaan Syiah adalah berbuka setelah betul-betul masuk waktu malam. Di saat awan merah di ufuk telah menghilang dan bintang mulai terbit.
Dalam kitab Wasail As-Syi’ah karya Muhammad bin Al-Hasan Al-Hur Al-Amili, dinyatakan,
باب ان وقت الافطار هو ذهاب الحمرة المشرقية فلا يجوز قبله
Bab: waktu berbuka adalah sampai hilangnya mega merah di ufuk timur, dan tidak boleh sebelumnya.Di bawah judul bab ini, selanjutnya dia membawakan beberapa riwayat dusta atas nama Ahlul Bait, diantaranya:
عن زرارة قال : سألت أبا جعفر عليه السلام عن وقت إفطار الصائم؟ قال : حين يبدو ثلاثة أنجم
Dari Zurarah, saya pernah bertanya kepada Abu Ja’far – alaihis salam –
tentang waktu berbuka bagi orang yang puasa? Beliau menjawab: ‘Ketika
telah terbit 3 bintang.’Abu Ja’far : cucu Husain bin Ali bin Abi Thalib. Beliau bergelar Al-Baqir. Salah satu ulama ahlus sunah yang dikultuskan Syiah. Dan satu kedustaan, beliau memfatwakan demikian.
Al-Hur Al-Amili memberi komentar,
هذا محمول على من خفي عليه المشرق فلم يعلم ذهاب الحمرة
إلا بظهور النجوم كما مر في مواقيت الصلوات ، أو على استحباب تقديم الصلوات
على الافطار وحينئذ تبدو ثلاثة أنجم ، ذكره بعض المتأخرين
Ini dipahami bahwa orang yang tidak mengetahui arah timur, sehingga
dia tidak tahu hilangnya awan merah kecuali setelah terbit bintang,
sebagaimana penjelasan dalam waktu-waktu shalat atau dianjurkan untuk
mendahulukan shalat (maghrib) dari pada berbuka. Sehingga setelah itu
terbit 3 bintang. Demikian yang dijelaskan ulama mutaakhirin (Syiah).
[Wasail As-Syiah, hlm. 124 – 125]
Keterangan ini yang selanjutnya dipraktekkan masyarakat penganut agama Syiah di masa ini. Termasuk komunitas Syiah di indonesia. Sebagaimana pengakuan beberapa orang yang pernah mengikuti kegiatan buka bersama yang diadakan kelompok Syiah indonesia.
Jika kita perhatikan, apa yang dipraktekkan oleh Syiah dalam kebiasaan berbuka ini, sama persis sebagaimana kebiasaan orang yahudi dan nasrani. Dalam hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا يزال الدين ظاهراً، ما عجّل النّاس الفطر؛ لأنّ اليهود والنّصارى يؤخّرون
“Agama Islam akan senantiasa menang, selama masyarakat (Islam)
menyegerakan berbuka. Karena orang yahudi dan nasrani mengakhirkan waktu
berbuka.” (HR. Ahmad 9810, Abu Daud 2353, Ibn Hibban 3509 dan statusnya
hadia hasan).Dalam riwayat lain, itu disebabkan orang yahudi suka mengakhirkan waktu maghrib sampai terbit bintang. Karena itulah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang sengaja menunda shalat maghrib hingga terbit bintang,
لَا تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى الْفِطْرَةِ، مَا لَمْ يُؤَخِّرُوا الْمَغْرِبَ حَتَّى تَشْتَبِكَ النُّجُومُ
“Umatku akan senantiasa berada di atas fitrah, selama tidak menunda
waktu maghrib sampai bintang-bintang mulai terbit.” (HR. Ahmad 15717,
Ibn Majah 689, dan statusnya Hasan).Kebiasaan berbuka puasa orang Syiah ini berbeda dengan apa yang diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau menganjurkan kepada umat Islam untuk menyegerahkan berbuka. Segera berbuka sejak bulatan matahari sudah tenggelam, meskipun awan merah masih merekah di ufuk barat.
Dari Sahl bin Sa’d radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لا تزال أمَّتي على سُنَّتي ما لم تنتظر بفطرها النّجوم
“Umatku akan senantiasa berada di atas sunahku, selama mereka tidak menunggu waktu berbuka dengan terbitnya bintang.”Sahabat Sahl mengatakan,
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika puasa, beliau pernah menyuruh seseorang. Ketika orang ini mengatakan, ‘Matahari telah tenggelam’ maka beliaupun langsung berbuka.” (HR. Ibn Khuzaimah dalam Shahihnya 3/275, dan sanadnya shahih).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah berbuka pada saat awan merah di langit masih sangat cerah, hingga sebagian sahabat menyebutnya masih siang.
Dari Abdullah bin Abi Aufa radhiyallahu ‘anhu, beliau mengatakan,
كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ فِي سَفَرٍ فِي شَهْرِ رَمَضَانَ، فَلَمَّا غَابَتِ الشَّمْسُ
قَالَ: «يَا فُلَانُ، انْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا» قَالَ: يَا رَسُولَ اللهِ،
إِنَّ عَلَيْكَ نَهَارًا، قَالَ: «انْزِلْ فَاجْدَحْ لَنَا» قَالَ:
فَنَزَلَ فَجَدَحَ، فَأَتَاهُ بِهِ، فَشَرِبَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
Kami pernah melakukan perjalanan bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
di bulan Ramadhan, dan saat itu beliau puasa. Ketika matahari sudah
terbenam, beliau memanggil sahabat yang di atas kendaraan, ‘Wahai Fulan,
turun, kita buat minuman.’ Sahabat ini menjawab, ‘Wahai Rasulullah,
sekarang masih siang.’ Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tetap
menyuruhnya, ‘Turun, kita siapkan minuman.’ Orang inipun turun, kemduian
menyiapkan minuman dari sawiq dan dihidangkan untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliaupun meminumnya. (HR. Bukhari 1956 & Muslim 1101).Dari keterangan sahabat yang disuruh turun: ‘Wahai Rasulullah, sekarang masih siang’ karena dia melihat suasana langit yang masih terang merah setelah bulatan matahari terbenam. Sehingga dia menyangka belum boleh berbuka.
Ketika menjelaskan hadis di atas, Al-Hafidz Ibn Hajar mengatakan,
في الحديث استحباب تعجيل الفطر ، وأنه لا يجب إمساك جزء من الليل مطلقا ، بل متى تحقق غروب الشمس حل الفطر
Hadis ini menunjukkan dianjurkannya menyegerahkan berbuka, dan tidak
wajib melanjutkan puasa hingga betul-betul malam. Akan tetapi, jika
sudah yakin matahari telah terbenam, halal untuk berbuka. (Fathul Bari,
4/197).Celaan Imam An-Nawawi untuk Syiah
Dalam karyanya, Syarh Shahih Muslim, Imam An-Nawawi mengatakan,
المغرب تُعَجَّل عقب غروب الشمس ، وهذا مجمع عليه ، وقد حُكِيَ عن الشيعة فيه شيء لا التفات إليه ، ولا أصل له
“Waktu maghrib segara setelah terbenamnya bulatan matahari. Inilah
yang disepakati umat Islam. Dikisahkan dari orang Syiah yang berbeda
dengan ini, tidak perlu digubris dan itu tidak berdasar.” (Syarh Shahih
Muslim, 5/136).Kedua, hubungan intim ketika puasa
Yang tidak akan pernah ketinggalan ketika membahas Syiah, masalah ranjang dan kemaluan. Untuk menemukan fatwa unik mereka tentang itu, sangat mudah dan sangat banyak. Dari mulai nikah mut’ah, mengawini binatang, homo, hingga menjadikan istri orang sebagai gundik mut’ah. Jika anda membaca fatwa tokoh-tokoh mereka tentang masalah seks, anda mungkin akan berkesimpulan, sebagian besar penduduk iran adalah anak zina. Saking merebaknya zina legal (mut’ah) di iran.
Salah satu keajaiban itu, bisa anda saksikan di: Tarif Nikah Mut’ah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar